Perlukah Revolusi Islam di Indonesia?


 image

oleh: HD Gumilang

Pertama-tama saya sedikit mengangkat peristiwa revolusi Islam di Suriah belum secara general. Kita telah mengetahui bersama bahwa operasi pembebasan Suriah dari rezim Assad muncul dari berbagai faksi-faksi Islam. Tujuan mereka semua sama: Membebaskan Suriah dan mengembalikan nilai-nilai Islam di negeri Syam tersebut. Diantara banyak faksi Islam yang membebaskan Suriah, ada satu faksi yang bisa diangkat sebagai contoh mewakili faksi-faksi yang ada di sana.
Jabhah Nusrah adalah milisi pembebasan Suriah yang dibentuk oleh Ikhwanul Muslimin cabang Turki yang berbatasan langsung dengan Suriah. Sayap militer tersebut saat ini dipimpin oleh Mohammad Faruq Tayfur yang juga merupakan wakil Ikhwanul Muslimin di Suriah. Sedemikian gencarnya Jabhah Nusrah membebaskan Suriah -sekarang Allepo sudah dikendalikan oleh milisi ini- sampai membuat Amerika Serikat memberikan stempel teroris kepada Jabhah Nusrah.

Adapun hembusan bahwa Jabhah Nusrah adalah sayap militer al Qaeda adalah datang dari kaum Syi'ah yang hendak mereduksi perjuangan Jabhah Nusrah. Sekadar catatan, sayap militer al Qaeda di Suriah bernama Front Kemenangan Suriah.

Keberadaan Jabhah Nusrah untuk sekian kalinya menjadi bukti nyata perjuangan Ikhwanul Muslimin di medan pertempuran tidak hanya sebatas opini dan menawarkan rancangan undang-undang syariah belaka.

Namun demikian, setiap tempat itu memiliki solusinya sendiri. Untuk studi kasus Indonesia, rasanya revolusi bukanlah solusi untuk mengetaskan serentetan masalah di negeri kita. Revolusi bukanlah jalan. Itu tidak senada dengan proses masuknya Islam ke Indonesia yang datang dengan lemah lembut, kasih sayang, dan kepercayaan. Tidak ada sejarahnya di Indonesia, masuknya Islam didahului dengan tumpahnya darah atau pertempuran menaklukan sebuah wilayah.

Ada kalanya pembebasan dari sebuah rezim otoriter itu perlu pertumpahan darah sebagaimana yang terjadi di Tunisia, Libya, Mesir, maupun Suriah. Dan sepertinya sebentar lagi Irak, serta Maroko akan menyusul Arab Spring jilid kedua. Tapi, ada kalanya revolusi itu tidak diperlukan karena sebab-sebab tertentu. Dan, Indonesia bukan tempat yang cocok untuk diadakannya revolusi.

Sejarah mencatat, ada tiga tipe masuknya Islam di Indonesia.
pertama, tipe Sumatera. Merujuk berdirinya Kesultanan Peurlak, disusul berdirinya Kesultanan Samudera Pasai, dan berdirinya Kerajaan Aceh, Islam hadir-tumbuh-berkembang-membesar di sebuah wilayah yang dapat dikatakan kosong. Komunitas baru di sana membangun sebuah sistem pemerintahan sederhana, kemudian setahap demi setahap mulai terwarnai oleh nilai-nilai ke-Islam-an hingga pada akhirnya menguat menjadi berbentuk Kesultanan.

Kedua, tipe Jawa. Islamisasi dalam tipe ini, Kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa dimulai dengan Islamnya masyarakat peisisir pantai akibat interaksi perdagangan dengan masyarakat Sumatera serta bangsa Arab, India, Persia yang orang-orangnya beragama Islam. Berita Islamnya penduduk di wilayah kekuasaan Kerajaan-kerajaan Jawa mendorong raja-rajanya untuk menganut agama Islam sebagai cara supaya pucuk kekuasaan mereka tetap kokoh dan tidak direbut oleh masyarakat dengan alasan berbeda keyakinan.

Ketiga, tipe Sulawesi. Islamisasi dalam tipe ini, diawali oleh Islamnya raja-raja di Kerajaan Sulawesi seperi Gowa dan Tallo. Berita telah ber-Islam-nya raja sampai kepada penduduk setempat. Sebagai bukti ketaatan penduduk kepada raja, maka para penduduk itu rela masuk agama Islam dan meninggalkan kepercayaan yang sebelumnya.

Dari uraian singkat di atas, setidaknya dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada satupun proses Islamisasi di Nusantara diawali oleh pertumpahan darah. Maka dari itu, ide revolusi Islam di Indonesia demi diterapkannya syariat Islam yang memungkinkan pertumpahan darah terjadi adalah bukan solusi untuk mengkonstruksi Islam di Indonesia melainkan sebuah desktruksi yang akan menghancurkan sejarah panjang harmonisnya Indonesia dengan Islam selama ini.

~:: Sejarah memang tidak berulang tapi berima ::~

http://www.suaranews.com

wdcfawqafwef