Fanatik pada Ustadz atau Ulama


Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah pernah ditanya :
ما حكم من أحب عالماً أو داعية، وقال : إني أحبه حبًا كثيرًا، لا أريد أن أسمع أحداً يرد عليه، وأنا آخذ بكلامه حتى وإن كان مخالفاً للدليل، لأن هذا الشيخ أعرف منا بالدليل ؟
“Apa hukum bagi seseorang yang mencintai seorang ulama atau da’i, hingga ia berkata : ‘Sesungguhnya aku sangat mencintainya. Aku tidak ingin seorang pun membantahnya, dan aku mengambil perkataannya meskipun ia menyelisihi dalil, karena syaikh tersebut lebih mengetahui dalil daripada kita’ ?”.
Beliau hafidhahullah menjawab :
هذا تعصب ممقوت مذموم، ولا يجوز.
نحن نحب العلماء –و لله الحمد-، ونحب الدعاة في الله عز وجل، لكن إذا أخطأ واحد منهم في مسألة فنحن نُبَيِّن الحق في هذه المسألة بالدليل، ولا يُنقص ذلك من محبة المردود عليه، ولا من قدره .
يقول الإمام مالك – رحمه الله - : (( ما مِنَّا إلا رادٌ ومردودٌ عليه؛ إلا صاحب هذا القبر )). يعني : رسول الله صلى الله عليه وسلم.
“Sikap ini merupakan kefanatikan (ta’ashub) yang dibenci lagi tercela, tidak diperbolehkan.[1]
Kita mencintai ulama – walillaahil-hamd - , dan mencintai da’i yang menyeru di jalan Allah ‘azza wa jalla. Akan tetapi jika salah seorang di antara mereka terjatuh dalam kesalahan dalam satu permasalahan, maka kita menjelaskan kebenaran dalam permasalahan ini dengan dalil. Hal itu sama sekali tidaklah mengurangi kecintaan kita pada orang yang dibantah, dan tidak pula mengurangi kedudukannya.
Al-Imaam Maalik rahimahullah berkata : “Tidaklah seorang pun dari kita kecuali orang yang membantah atau yang dibantah, kecuali pemilik kubur ini”[2]– yaitu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
نحن إذا رددنا على بعض أهل العلم، وبعض الفضلاء؛ ليس معنى هذا أننا نبغضه أو نتنقصه، وإنما نُبَيِّن الصواب، ولهذا يقول بعض العلماء لما أخطأ بعض زملائه، قال : (( فلان حبيبنا، ولكن الحق أحب إلينا منه )). ، هذا هو الطريق الصحيح .
ولا تفهموا أن الرَّد على بعض العلماء في مسألة أخطأ فيها معناه تَنَقُّص لـه أو بُغض، بل ما زال العلماء يرد بعضهم على بعض، وهم اخوة ومتحابون .
ولا يجوز لنا أن نأخذ كل ما يقوله الشخص أخذاً مسلّماً؛ أصاب أو أخطأ، لأن هذا تعصُّب .
“Apabila kita membantah sebagian ulama dan sebagian fudlalaa’tidaklah bermakna kita membencinya atau merendahkannya. Kita hanyalah menjelaskan kebenaran. Oleh karenanya sebagian ulama berkata ketika sebagian rekannya terjatuh dalam kesalahan : ‘Fulaan adalah orang yang kami cintai, akan tetapi kebenaran lebih kami cintai daripadanya’[3]. Inilah jalan yang benar.
Janganlah kalian memahami bahwa bantahan terhadap sebagian ulama dalam permasalahan yang mereka jatuh dalam kekeliruan bermakna perendahan atau kebencian. Bahkan para ulama senantiasa memberikan bantahan sebagian terhadap sebagian yang lain, dalam keadaan mereka saling bersaudara dan mencintai.
Tidak boleh bagi kita mengambil semua yang diucapkan seseorang secara total, baik benar ataupun salah, karena ini merupakan sikap fanatik (ta’ashub).
الذي يؤخذ قوله كله ولا يترك منه شيئاً هو رسول الله صلى الله عليه وسلم ، لأنه مبلِّغ عن ربه، لا ينطق عن الهوى، أما غيره فهم يخطئون ويصيبون، وإن كانوا من أفضل الناس، هم مجتهدون يخطئون ويصيبون .
ليس أحد معصومًا من الخطأ إلا رسول الله صلى الله عليه وسلم .
يجب أن نعرف هذا، ولا نتكتّم على الخطأ محاباة لفلان، بل علينا أن نُبَيِّن الخطأ .
يقول النبي صلى الله عليه وسلم  : (( الدين النصيحـة ، قلنا : لمن ؟، قال : لله، ولكتابه، ولرسوله، ولأئمة المسلمين، وعامتهم )).
وبيان الخطأ من النصيحة للجميع، وأما كتمانه فهو مخالف للنصيحة .
“Yang diambil semua perkataannya tanpa ditinggalkan sedikitpun adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau orang yang menyampaikan (risalah) dari Rabbnya, tidak berkata dengan hawa nafsu. Adapun orang selain beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bisa benar dan bisa juga salah, meskipun ia adalah seutama-utama manusia. Mereka (para ulama) adalah para mujtahid yang bisa benar dan bisa salah.
Tidak ada seorang pun yang ma’shum dari kesalahan, kecuali Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Wajib bagi kita untuk mengetahui permasalahan ini. Kita tidak membicarakan kesalahan dikarenakan kecintaan terhadap seseorang. Namun wajib bagi kita menjelaskan kesalahan tersebut.
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ((“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya : “Untuk siapa ?”. Beliau menjawab : “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para imam kaum muslimin, dan kaum muslimin pada umumnya”)).[4]
Menjelaskan kesalahan termasuk nasihat bagi semua. Adapun menyembunyikannya, maka itu menyelisihi nasihat tersebut di atas” [selesai perkataan Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan rahimahullah].
[Dinukil dari kitab Al-Ajwibatul-Mufiidah ‘an As-ilatil-Manaahijil-Jadiidah min Ijaabaat Ma’aliy Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan, hal. 163-164, Daarul-Minhaaj, Cet. 3/1424 H, dengan catatan kaki yang diberikan oleh Jamaal bin Furaihaan Al-Haaritsiy - 14041434/24022013].



[1]      Muhammad Shulthaan Al-Khajnadiy penulis kitab ‘Hal Al-Muslim Mulzamun bittibaa’I Madzhab Mu’ayyan minal-Madzaahib Al-Arba’ah ?’ (hal. 58, tahqiiq : Al-Hilaaliy) menukil perkataan ‘Aliy Al-Qaariy Al-Hanafiy :
لا يجب على أحد من هذه الأمة أن يكون حنفياً، أو مالكياً، أو شافعياً، أو حنبلياً، بل يجب على آحاد الناس إذا لم يكن عالمًا أن يسأل واحدًا من أهل الذكر ، والأئمة الأربعة من أهل الذكر؛ ولهذا قيل : (( من تبع عالمًا لقي الله سالمًا )) ، وكل مكلّف مأمور باتباع سيد الأنبياء سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم
“Tidak wajib bagi seorang pun dari umat ini untuk menjadi seorang hanafiy, maalikiy, syaafi’iy, atau hanbaliy. Akan tetapi wajib bagi setiap orang apabila ia bukan seorang yang ‘aalimagar bertanya kepada ahludz-dzikr (ulama). Dan para imam yang empat termasuk ahludz-dzikr. Oleh karena itu dikatakan : ‘Barangsiapa yang mengikuti ulama, maka ia akan bertemu Allah dalam keadaan selamat’. Setiap mukallafdiperintahkan mengikuti sayyidul-anbiyaa’, yaitu sayyidunaaMuhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Al-Imaam Asy-Syaafi’iy rahimahullahu ta’ala berkata :
أجمع المسلمون على أن من استبانت له سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يكن له أن يدعها لقول أحد من الناس
“Kaum muslimin telah bersepakat bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tidak boleh banginya untuk meninggalkannya karena perkataan seorangpun dari kalangan manusia” [Lihat : I’laamul-Muwaqqi’iinoleh Ibnul-Qayyim, 1/7].
[2]      Lihat takhrij atsar ini dalam kitab Shifatu Shalatin-Nabiy shallallaahu ‘alaihi wa sallam oleh Al-Albaaniy, hal. 26, catatan kaki no. 3, terbitan Al-Maktab Al-Islaamiy, 1403 H. Atsar tersebut dibawakan juga oleh Al-‘Ajluuniy dalam Kasyful-Khafaa’ no. 1961.
[3]      Ini adalah perkataan Syaikhul-Islaam Ibnul-Qayyim terhadap Abu Ismaa’iil Al-Harawiy. Lihat : Madaarijus-Saalikiin, 3/394.
[4]      Diriwayatkan oleh Muslim no. 55.

wdcfawqafwef